Selasa, 15 April 2008

Ide Menulis

Waah ternyata sulit juga ya menulis itu. Ketika ingin mulai menulis yang langsung muncul di benak adalah hendak menulis apa?

Saya belajar dari para pakar, bahwa ide tulisan itu sebenarnya ada di mana saja, bahkan ada di sekitar kita, hanya masalahnya apakah kita cukup jeli untuk menuangkan peristiwa tersebut ke dalam tulisan.

Apa yang kita lihat, kita alami, kita rasakan, semua itu dapat menjadi ide tulisan. Dan tidak terbatas hanya dari diri sendiri, namun pengalaman dan perasaan dari orang lain misal suami, teman, bahkan anak kita sendiri dapat menjadi sumber tulisan. Juga penghayatan kita terhadap pengalaman dan perasaan orang lainpun dapat menjadi bahan tulisan. Sekali lagi, kita memang harus jeli menangkap ide tersebut.

Misalnya, saat mengamati anak kita yang sedang berceloteh, menimbulkan rasa takjub betapa Maha Besar Allah. Anak kita yang kita rawat sejak masih merupakan benih di dalam kandungan, saat kelahirannya yang tidak berdaya apa-apa, lalu dapat tengkurap, duduk, lalu akhirnya berjalan dan sekarang sudah pandai berbalas pantun. Amboi ! Dapat dikembangkan menjadi sepuluh halaman artikel menarik tentang pertumbuhan anak.

Menurut Pak Jonru dalam artikelnya yang berjudul “Kiat Menggali dan Mengembangkan Ide Tulisan” (27 April 2007), disebutkan bahwa sebenarnya, ketika seorang penulis bingung bagaimana cara menuangkan ide menjadi tulisan, biasanya itu disebabkan di dalam pikirannya penuh dengan beban yang seharusnya tidak ada. Misalnya: dia khawatir kalau tulisan itu nantinya tidak menarik, tidak sesuai EYD, atau dia dibayang-bayangi oleh gaya penulisan dari penulis idolanya dan seterusnya.

Nah untuk mengatasinya, cobalah untuk menyingkirkan semua perasaan khawatir tersebut. Menulislah dengan bebas. Jangan takut salah, jangan takut ditolak, jangan takut ditertawakan, jangan takut apapun.

Terus saja tuliskan apa yang ada di benak, jangan berhenti dan jangan mengkoreksi apa yang sudah ditulis. Salah, tidak apa-apa. Sampai semuanya selesai ditumpahkan ke dalam tulisan, barulah kita baca kembali tulisan kita lalu kita lakukan koreksi.

Catatlah setiap ide yang terlintas, saat bangun pagi, saat mengantar anak ke sekolah, saat bertemu teman di pasar, saat berkumpul dengan teman-teman arisan, dst, dst. Bawalah kertas atau buku catatan kecil dan pulpen kemana saja anda pergi, atau PDA kalau anda memilikinya. Setelah sampai di rumah dan sudah memiliki waktu luang, kembangkan ide yang sudah anda catat tersebut.

Juga, apabila ide tulisan ternyata sama dengan ide tulisan orang lain, tidak apa-apa. Karena setiap penulis pasti memiliki gaya penulisan yang berbeda. Sehingga, walaupun ide-nya sama tetapi cara/gaya penyampaiannya berbeda, dan akan berbeda pula penekanan-penekanannya. Juga tidak ada ide yang basi, tergantung bagaimana kita mengupasnya.

I have not failed. I have just found 10,000 ways that don’t work. (Thomas Alfa Edison)